Latest Tweets:

Bahkan bening ain bidadari tak sanggup mengibaratkan tatap matanya, selalu mampu meluluh rapuh batin di tiap kedipnya, teduh sungguh. Tak pernah ia sadar tentu, aku menikmati tebaran tenteram setiap ayunan langkahnya, menyamun damai setiap ucap bibir manisnya, melarung gundah setiap riang tawanya. Seluruhnya lekat tertanam sebagai bahagia dalam benak bahkan meski bukan kepadaku tersandar hatinya. Telah terlalu genap jiwa ini dengan secuil bersama dulu.
Art by: Chukairi

Untuk sebuah pengibaratan sempurna tentang bahagia, menyentuh lembut seirama detak nadi mengayun merengkuh relung jiwa dalam hening. Gemerincing tawa menebar keping rindu terurung tak tersampaikan ragu.
Untuk pengabaian rasa seasa cinta, aku membilang satu demi satu nyali, memungut yakin dari setiap sudut angan, bergelut kalutnya prasangka. Hingga letih pun tiada bakal memaksaku tiarap mencampak harap, mengisi kekosongan hati dan saku celanaku.
Art by Rik Oostenbroek

Terseret tersesat ku lalu dalam buai mimpi keparat yang selalu akhirnya mengurung selaksa rindu pada palung jiwa. Ini rindu keparat, keparat, tak dapat aku ikat meski secuil aroma perjumpaan yang masih lekat dalam ingin yang dekap hangatnya pun hanya angan. Enyah kau khayal, jiwa ini telah terlalu lelah, tak sudikah kau sejenak pergi? Kembalimu bahkan tak pernah aku harapkan, tetapi tentu tibamu tak mampu aku halangi. Mohon, mohon kembali nanti kala pagi telah meramah lagi.
Photo by: Leszek Bujnowski
Badut Maskot. “Cheers!”. Lihat bagaimana riang-nya anak-anak setiap berpose centil dengan badut maskot dalam kostum uniknya. Aku bisa jadi serigala yang lucu, kuman yang tak mengganggu, atau mamalia tak bernama. Kamu bisa berfoto denganku, selalu melihat cerianya ekspresiku.
Membuat orang lain tersenyum bahagia, akan sangat menyenangkan. Meski di akhirnya, aku harus bermandikan peluh, setidaknya tawa mereka cukup menjadi bekal menjelajah mimpi malam nanti.
Langit membiru, bersanding awan memancar melukis ramai atap kehidupan. Tetapi bukan ke sana kau memandang. Mengabaikan senyum simpul cerahnya hari. Memalingkan muka dari sapa baskara. Awang-awangmu penuh dahaga tatap pesona, meski hambar sejatinya. Tenggelam dalam peluh hasrat mengejar elok ragamu. Tanpa tersirat barang secuil nyana, rupa itu sekadar semu.
Ceria tak selalu menawarkan aromanya yang tak berujung, sekadar fana. Kala frasa kehidupanmu terukir dari klausa bahagia, seakan terbentang jalan untuk selalu menari bebas di atasnya, berhentilah. Tiada sadar penat diri karenanya. Kejut hampa menuju nuansa penuh lena, hanya akan meleburmu dalam balutan khayal semu tak kasat mata.
Batas-batasnya, jangan pernah pongkah kau lewati. Ia datang lalu gelisahmu dahulu. Hadirnya tak senantiasa mendekap, berkarib menyusur langkah bersamamu. Jangan pula kau sisihkan lara. Karena olehnya, lalu kepadamu bahagia itu dihampirkannya.
Sementara nanti, kita akan menertawakan keluguan benak dalam menjelajah spektrum asmara. Ketidakjelasan asa dalam balutan masa, dengan segala palsu dan silau penuh khayalnya. Jiwa terus menerus didera kecamuk cinta redup reda, langkah melemah hingga lunglai ke tanah.
Lalu terkesiap segala tanya, akankah kebahagiaan bakal mampir merenggut rindu yang tak tahu di mana hulunya. Seketika terbelalak mata hati, masih jauh langkah harus ditapak. Menjemput tenteram jiwa yang tak menuntut resah. Mendekatkan damai yang tak terkungkung bimbang. Cinta sejati itu, pada akhirnya adalah sebuah keniscayaan.
"Berbahagialah di pagi hari, dengannya kamu akan lebih dekat kepada bahagia hingga senja."
Spora cinta mengangkasa, membumbung linglung tanpa tahu arah ke mana. Pahit manis pilu resah melingkup benak dalam derajat minus dinginnya kesendirian.
Kau tahu kerling kedipmu itu penuh sirat biru redam kedamaian, namun terlalu meninggi jauh untuk diraih. Katakan padaku, selaksa untai kata cukupkah menautkan barang sejengkal lebih dekat kepada hatimu, hai tukang jamu tambatan rinduku?
Hangat dikecup mentari. Senang bukan kepalang. Menyusur jalan, dibalik teduh. Ada penghidupan di depan, kayuh asa kita. Mengejar detik berlalu, tanpa secuil terbuang. Sambut pagi, genggam hangatnya … bebaskan.